Humas – Ada yang berbeda dengan suasana di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Sukoharjo pagi ini. Murid tampak antusias menanam bibit pohon di halaman madrasah.
Bukan tanpa alasan, sekolah ini tengah menggelar aksi penanaman pohon massal sebagai bentuk implementasi ekoteologi, yaitu sebuah konsep yang menyelaraskan keyakinan iman dengan kepedulian terhadap kelestarian alam.
Kegiatan yang berpusat di area halaman madrasah ini melibatkan seluruh elemen, mulai dari murid, guru, hingga tenaga kependidikan.
Aksi ini bertujuan untuk memberikan edukasi praktis kepada para murid bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan bagian dari perintah agama dan bentuk ibadah yang nyata.
Konsep ekoteologi sengaja diangkat agar murid tidak hanya melihat menanam pohon sebagai aktivitas fisik belakangan, melainkan sebagai tanggung jawab spiritual sebagai manusia yang diutus menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Murid diajarkan cara menggali tanah, menanam bibit dengan benar, hingga merawatnya secara berkelanjutan melalui piket kelas rutin. Dengan begitu, muncul rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap pohon yang mereka tanam sendiri.
Erma Nurlaila Ariyanti, S.Ag., M.S.I., selakuKepala MIN 2 Sukoharjo menyampaikan rasa bangga dan harapan besarnya terhadap gerakan hijau berbasis teologi ini. Menurutnya, pendidikan karakter lingkungan harus dimulai sejak usia dini dan dari lingkungan sekolah.
”Menanam pohon dalam sudut pandang ekoteologi bukan sekadar urusan estetika agar sekolah terlihat rindang. Ini adalah bentuk ibadah konkret. Kami ingin menanamkan pola pikir kepada anak-anak bahwa menjaga bumi adalah bagian dari manifestasi iman kepada Allah SWT.
Satu bibit yang mereka tanam dan rawat hari ini adalah sedekah oksigen yang pahalanya akan terus mengalir untuk masa depan. Kami berharap aksi ini mampu membentuk karakter rahmatan lil ‘alamin menjadi rahmat bagi semesta alam yang melekat pada sanubari murid hingga mereka dewasa nanti,” ujarnya.
Dengan adanya gerakan ini, MIN 2 Sukoharjo tidak hanya sukses mengurangi kegersangan di lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil melahirkan generasi muda yang cerdas secara akademik sekaligus peduli secara spiritual terhadap kelestarian alam sekitar. Gerakan kecil ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Sukoharjo untuk melakukan aksi serupa demi bumi yang lebih hijau.



