HUMAS MIN 2 SUKOHARJO– Bertempat di Aula Kampus 1 Jetis, pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, telah sukses dilaksanakan agenda strategis bertajuk Penyusunan RPP Pembelajaran Mendalam (PM) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an (tilawah) yang memberikan suasana religius bagi seluruh tenaga pendidik yang hadir.
Dalam sambutannya, Kepala Madrasah, Ibu Erma Nurlaila Ariyanti, S.Ag., M.S.I., menekankan bahwa kurikulum bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan instrumen penting untuk menyentuh hati setiap peserta didik. Beliau menyampaikan bahwa melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), madrasah berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh empati. Beliau juga menegaskan pentingnya prinsip Pembelajaran Mendalam, agar murid tidak hanya terpaku pada hafalan materi, tetapi mampu berpikir kritis, menganalisis, dan mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan nyata dengan landasan akhlakul karimah.
Memasuki sesi inti, para peserta menerima pemaparan mendalam dari korbid kurikulum mengenai prinsip pembelajaran mendalam dan kurikulum berbasis cinta adalah guru harus dapat mengantarkan murid untuk memiliki kesadaran belajar, bermakna dalam kehidupan, dan menggembirakan atau menarik untuk melakukan pembelajaran. Jadi, guru tidak hanya menyampaikan materi saja tetapi murid harus diberikan pengalaman belajar melalui memahami, mengaplikasi, merefleksi serta mengiintegrasikan nilai-nilai cinta dan DPL dalam kehidupan sehari-hari. Tidak berhenti pada teori, para guru langsung melakukan praktik mandiri menyusun RPP yang adaptif dan inovatif sesuai jenjang masing-masing. Sebagai bentuk tertib administrasi dan digitalisasi dokumen, seluruh RPP yang telah disusun dalam format PDF langsung diunggah ke tautan Google Drive yang disediakan tim kurikulum.
Antusiasme luar biasa tampak dari wajah para guru selama kegiatan berlangsung. Banyak di antara mereka mengaku bahwa pelatihan ini memberikan perspektif baru yang menyegarkan; mereka merasa lebih termotivasi untuk mengajar bukan hanya dengan logika, tetapi juga dengan hati. “Pendekatan KBC ini mengingatkan kami kembali bahwa setiap murid memiliki keunikan yang harus disambut dengan kasih sayang agar potensi terdalam mereka bisa muncul,” ujar salah satu perwakilan guru. Semangat kolaborasi ini diharapkan mampu membawa transformasi nyata bagi kualitas pendidikan di madrasah ke depan.(Rfk)





